Tampilkan postingan dengan label Character Building. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Character Building. Tampilkan semua postingan

Senin, 14 Februari 2011

Arti Sebuah Kesuksesan

Every big step starts with an inch - anonimous -


Seorang trainee datang pada saya dan mengatakan " Pak, kredit yang saya proses sudah cair. Tapi receh Pak".
Mendengar pernyataan itu saya bertanya pada dia " Kamu tidak bangga dengan hasil itu ?"

"Segini mana bisa dibanggakan, Pak?" dia balik bertanya.
Lalu saya tanya kepada dia " Seberapa besar usahamu untuk bisa mencairkan kredit itu?'
"Susah Pak" katanya. dan dilanjutkan dengan bla-bla-bla cerita mengenai usahanya dalam mencairkan fasilitas kredit itu. Ketika dia bercerita terlihat antusiasme yang terwakili oleh an body language nya.

"Itu yang seharusnya kamu banggakan", kata saya. Seberapapun yang kamu dapat, kamu harus menghargai dirimu atas pencapaian itu.

Dan memang bagi dia seharusnya sekecil apapun pencairan itu adalah hal yang luar biasa. Karena, baru 1 bulan dia menjalani On The Job Training tapi sudah bisa mengahsilkan bisnis nyata bagi perusahaan. Sebagai trainer pun saya juga bangga.

Permasalahannya adalah seringkali kita terlalu mengecilkan arti sebuah kesuksesan. Kenapa demikian? Karena kita hanya melihat nominal yang dihasilkan dan bukan pada usaha yang dicurahkan untuk mencapai keberhasilan tersebut.

Ingatlah pepatah di atas. Setiap langkah yang besar selalu dimulai dari satu inchi. Seberapa jauh kita melangkah, pasti diawali dengan satu langkah. Ribuan kilo yang kita tempuh bahkan mungkin hingga jutaan kilo diawali dengan sebuah langkah untuk keluar dari rumah.

Demikian halnya dengan kesuksesan. Sebesar apapun kesuksesan tidak akan datang secara tiba-tiba. Bahkan orang yang beruntung menang lotere jutaan dolar juga mengawalinya dengan sebuah keberhasilan. Keberhasilan dia untuk mendapatkan modal taruhan.

Karenanya, sebuah kesuksesan, sekecil apapun itu harus kita hargai. Setiap anggtota tubuh kita perlu dihargai kerja kerasnya dalam menghasilkan kesuksesan.


Bagaimana jika ternyata pencapaian itu tidak sesuai dengan target yang seharusnya dibebankan kepada kita? Itu menjadi bagian dari departemen evaluasi yang ada pada diri kita. Departemen yang bertugas melakukan menilai kesesuaian rencana dan tindakan yang telah kita buat. Departemen yang melakukan audit atas kesalahan-kesalahan yang kita lakukan sehingga pencapaian tidak sesuai dengan kapasitas yang dimiliki. Dan saya tidak akan membicarakan itu sekarang.
Yang akan saya bahas disini adalah bagaimana menumbuhkan sikap mental positif untuk selalu menghargai setiap kesuksesan dari langkah-langkah yang kita tapak.
Penghargaan atas kesuksesan diri akan melahirkan energi positif. Ucapkan pada diri sendiri " Diriku, selamat atas keberhasilan yang kau capai. Hari ini kamu memang menghasilakn sesuatu yang kecil. Tapi, ini hanya batu loncatan untuk menggapai sukses yang lebih besar bukan?. Karena itu ayo terus semangat untuk melakukan lompatan besar".
Perngahragaan seperti ini akan membuat diri kita terus termotivasi untuk melompat lebih tonggi dan lebih tinggi.

Demikian juga sebaliknya, apabila kita mengecilkan arti sebuah keberhasilan. Yang terjadi adalah kelelahan mental karena merasa hasil yang dicapai tidak sebanding dengan pengorbanan. apalagi bila memang uapaya untuk  mencapai target tersebut sama besar dengan mereka-mereka yang pencapaiannya lebih dari kita. Jika demikian yang muncul selanjutnya adalah perasaan sia-sia. Sehingga muncul kata-kata "percuma dong gue kerja capecape hasilnya cuma segini". Atau "buat apa ngerjain yang segitu. Nyapenyapein aja".

Wow. Luar biasa. Dengan demikian kita sudah menolak rejeki. Kita tidak pernah tahu apakah ada sesuatu yang besar dari cas kecil yang kita kerjakan. Saya pernah punya pengalaman. Sebagai seorang Account Officer di sebuah bank swasta, saya pernah menangani nasabah yang ketika pertama saya pegang hanya memiliki plafon kredit 700 juta rupiah. Pada saat itu saya tidak pernah membayangkan jika suatu saat nasabah saya tersebut akan terus berkembang usahanya hingga kredit yang saya tangani bertambah menjadi 10 milyar. dan bahkan dia membeli sebuh pabrik dan minta pembiayaan kepada saya hingga 80 milyar.

Jika dari awal saya memilirkan yang 80 milyar, tentu yang 700 juta awal tidak akan pernah saya fikirkan. Mungkin saya enggan menangani kredit debitur saya tersebut. Walau bagaimanapun saya menghargai pencapaian awal saya. meskipun hanya 700 juta, tapi saya belajar banyak case dari menangani nasabah ini. Saya mendapatkan pengalaman yang membuat saya matang dan lebih siap untuk mengelola kredit yang lebih besar.

Itulah arti sebuah kesuksesan. Sekecil apapun yang kita dapatkan harus kita syukuri agar pancaran energi positif yang kita dapatkan. Kalau boleh saya ibaratkan kesuksesan ibaran sebuah candu yang begitu kita hisap akan membuat kita terus dan ingin terus menghisapnya lagi. Bila memang demikian keadaannya maka sangatlah wajar bila dari sebuah kesuksesan kecil maka akan lahirlah kesuksesan besar.

Kamis, 10 Februari 2011

Move or Stay ? Is It Problem for You?

Hari ini, seorang teman menghubungi saya. Teman yang menurut saya luar biasa dalam bekerja, punya semangat dan loyalitas tinggi terhadap perusahaanya. Akan tetapi, kali ini rupanya dia sedang gundah. Dia sedang bingung memikirkan tawaran yang menarik dari perusahaan lain. Tentu saja dengan kompensasi kenaikan gaji yang jauh lebih "pantas" ditambah dengan sejumlah fasilitas yang lebih baik.


So..apa masalahnya ? Kenapa dia menjadi bingung kalau toh ternyata tawarannya jauh lebih bagus.

Langsung saja sebuah pertanyaan muncul dari saya. "Apa yang membuat loe takut untuk pindah ?"
Rupanya standar saja. Ketakutan akan risiko di tempat baru, harus beradaptasi lagi dan keharusan untuk melewati masa probation.

Pertanyaan selanjutnya. "Apa yang membuat loe pengen bertahan?"
Jawaban atas pertanyaan ini yang saya suka. "Gue cinta sama perushaan gue sekarang. Gue punya mimpi di sini. Gue punya visi di sini". Jawaban yang menurut saya luar biasa. Yang seharusnya dengan adanya itu dia tidak perlu ragu untuk bertahan.

"Apakah loe enjoy kerja di situ? Lu enjoy dengan pekerjaan lu ?". Definitely yes jawabannya.

"Are you happy with that ?" Of course jawabannya.

"Apa yang bikin loe bahagia?" Rupanya karena dia telah membangun sesuatu yang luar biasa di perusahaan itu. Selama kurang dari satu tahun dia sudah berhasil menghidupkan sebuah cabang kecil yang tadinya sekarat. Dan dengan pencapaian itu dia mendapat penghargaan kesempatan dinner dengan BOD.

"And I'm happy because i have a great contribution here and I feel so meaningful". Katanya.
 

Tapi mengapa dia bingung?

Muncul satu pertanyaan lagi. "Apa yang membuat lu ngrasa loe harus pergi?" jawabannya adalah "gaji". Dia ingin mendapatkan rupiah yang lebih dari sekarang. Sementara tawaran dari "warung sebelah" sangat menggiurkan. Dengan kalkulasinya, apabila tawaran itu diambil tentu segala ambisinya akan uang pasti akan terpenuhi.

"Apakah uang itu sesuatu yang urgent bagi loe untuk dikejar saat ini?". Jawabannya iya. Dan justru muncul pertanyaan balik dari dia. "Siapa yang nggak mau uang banyak?".

"Apa lagi yang membuat loe ragu bertahan?". Dia justru menjawab dengan sebuah pertanyaan. "Sampai kapan gue harus ada di posisi ini?". "Gue takut gak akan naik-naik?"

"Apakah yang ditawarkan ke loe adalah jabatan yang lebih tinggi?". Not really jawabannya.
Jadi menurut saya itu bukan issue.

"Apakah uang yang ditawarkan ke loe itu bisa gantiin kebahagiaan loe kerja di tempat  sekarang?" She is definitely cunfuse about this question.

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Well, that's life. Life is choice. Pada dasrnya hidup adalah pilihan. Anda mungkin pernah mengalami situasi seperti itu. Dan mungkin anda juga termasuk orang yang bingung ketika menghadapi situasi demikian.

Apapun pilihan kita tidaklah masalah. Asalkan kita tahu apa konsekuensinya. Kita tahu apa risikonya dan siap menerima risiko itu dengan jiwa yang besar.

Tapi yang jelas adalah ketika kita menentukan suatu pilihan pastikan hal itu telah selaras dengan purpose of life. Karena ketika kita paham purpose of life tentu tidak akan terjebak dan dipusingkan dengan atribut-atribut seperti uang, pangkat, jabatanm, prestise, status sosial, dsb. Semua hal itu pada dasarnya adalah pernak-pernik yang bersifat sementara. Semua atribut itu akan secara otomatis menyemat ketika kita menjalani kerja dengan luar biasa.

Sementara itu bagaimana sebuah kerja menjadi luar biasa?. Ketika kita enjoy dengan pekerjaan itu. Bagaimana kita bisa enjoy dengan pekerjaan?. Ketika kita mencintai pekerjaan itu, tidak peduli dimanapun. Tidak peduli terikat pada lembaga apapun. When you love your job then everyday is holiday for you.

Dari diskusi saya dengan teman tersebut jelas terlihat bahwa dia hanya terbebani oleh satu atribut, yaitu uang.

Pada daranya "great money will follow great job". Ketika kerja anda luar biasa maka secara otomatis uang, pangkat, jabatan akan dengan senang hati memihak anda. Di manapun anda berada, apakah di tempat lama atau di tempat baru, hukum itu pasti berlaku. Masalahnya adalah, semua hal  tersebut memerlukan proses yang tentu saja equivalen dengan "waktu".

Ketika berbicara mengenai waktu hanya ada satu sikap mental yang bisa mengimbanginya yaitu sabar dan persisten.

Dalam case dia atas saya tidak pernah mennentukan pilihan untuk teman saya tersebut. Hanya saja saya mencoba membuka pola pikirnya agar menghitung secara cermat. Jangan sampai dia terjebak pada atribut-atribut yang sifatnya sementara. Apakah itu uang, jabatan atau bahkan kekuasaan.

Yang paling penting menjadi ukuran dalam hal ini adalah sekali lagi purpose of life. Setiap orang pasti ingin bahagia. Dan ketika kita sudah happy dengan pekerjaan yang saat ini kita jalani, akankah beberapa rupiah mampu menggantikan kebahagiaan itu?

Lain halnya jika memang kita sudah sama sekali bosan dengan pekerjaan kita. Apa yang bisa kita lakukan kalau memang kondisinya demikian. Ada tiga pilihan dan moving out adalah salah satu pilihannya. Apa lagi dua pilihan lainnya? Kita merubah lingkungan kerja kita atau kita yang merubah sikap mental kita. Untuk merubah lingkungan jelas diluar service area kita. Merubah sikap mental kita perlu effort yang luar biasa.

Tawaran-tawaran dari "warung lain" yang lebih menarik adalah tarikan dari luar. Kondisi-kondisi dalam perusahaan yang membuat kita tidak nyaman, tidak enjoy adalah dorongan dari dalam. Selama dua konsisi tersebut tidak terpenuhi, berpikirlah masak-masak sebelum moving out. Pikirkan kembali apa motivasi anda untuk pindah kerja. Sekali lagi jangan hanya karena mengejar sebuah atribut.

Satu hal yang sangat penting dalam pekerjaan adalah kita harus melihat pekerjaan itu sebagai sebuah sarana. Sarana untuk apa? Tentu saja sarana untuk mencapai purpose of life kita yaitu, happyness. Dan yang paling penting dalam mencapai kebahagian adalah sikap mental. Maka tentunya ketika akan memutuskan untuk pindah, kita harus menimbang apakah tenpat kerja saya saat ini adalah wahana yang cukup bagus untuk mengembangkan sikap mental saya?. Dan apakah tempat baru saya nanti akan sebagus ini atau lebih bagus lagi?

Apakah di sana saya bisa memberikan kontribusi lebih baik? dan ataukahsebaliknya.

Ketika kerangka berfikir ini kita miliki, saya yakin tidak akan ada kebingungan ketika kita menghadapi pilihan-pilihan dalam hidup. terutama dalam pekerjaan dan karir.

Senin, 16 Agustus 2010

Positive Mental Attitude di Jalan Raya

Setiap hari jalur yang saya tempuh untuk pulang menuju rumah adalah Jl. Latuharhari menuju Pasar Rumput. Cukup padat memang. Apalagi kalau hari Selasa atau Rabu. Kadang-kadang hampir macet. Di saat macet seperti ini saya memperhatikan beberapa tingkah pengemudi yang terus terang cukup mengesalkan.

Saat antrian mobil yang tersendat, tiba-tiba sebuah mobil memaksakan diri untuk menerobos antrian dan berpindah jalur dari kanan ke kiri, karena memang jalur kiri kebetulan lebih lancar dan ada sedikit celah. Saya tergolong orang yang tidak suka dengan tingkah laku pengemudi seperti ini. Sehingga dari tadi mobil yang posisinya tidak jauh dari mobil saya itu terus saya perhatikan.

Setelah jalan agak lancar, dengan tba-tiba mobil yang sudah berpindah ke jalur kiri tersebut tiba-tiba berbelok ke kanan di perempatan, memotong antrian mobil yang ada di jalur kanan. Kontan saja bunyi klakson menderu-deru dari mobil-mobil yang lain.

Itu hanya satu contoh dari banyak kejadian yang tentu banyak sekali kita temui di jalan-jalan kota Jakarta. Sebut saja menerobos jalur Busway, melanggar lampu merah, u turn di tempat yang tidak seharusnya, dan masih banyak lagi.

Yang membuat saya bertanya-tanya adalah mengapa pengemudi-pengemudi itu melakukan perbuatan yang saya yakin pada dasarnya mereka pasti paham kalau itu adalah sebuah pelanggaran. Apa yang membuat mereka memiliki previledge sehingga merasa lebih berhak daripada pengguana jalan yang lain? Apakah pengguna jalan yang lain tidak memiliki hak yang sama untuk sampai lebih cepat sehingga mereka melanggar hak-haknya? Apakah pengguna jalan yang lain juga tidak ingin bertemu dengan keluarganya di rumah? Apakah pengguna jalan yang lain juga tidak ingin menepati waktu untuk bertemu dengan klien?

Kadang saya berfikir mungkin pengemudi-pengemudi ini hanya sopir yang kebetulan diberikan kepercayaan untuk mengemudikan mobil majikannya. Barangkali cukup wajar kalau sopir melakukan tindakan semacam itu. Karena mungkin latar belakang dan tingkat pendidikan mereka membatasi paradigma dan pola pikir mereka. Akibatnya tindakan pragmatis yang diambil.
Tapi setelah saya perhatikan ternyata bukan cuma sopir saja yang semacam itu. Beberapa mobil ternyata dikendarai oleh pemiliknya sendiri yang tentu saja tingkat pendidikannya cukup tinggi. Bahkan dengan banggga pengemudi ini menempelkan sticker almamater mereka di mobil.

Sebut saja sebuah universitas yang meneyebut dirinya "We Are The yellow Jackets", Ohio University, ITB. Wow, betapa terpelajarnya pengemudi-pengemudi ini. Dandanannya juga keren dengan dasi yang menggantung di lehernya.

Lalu apa masalahnya? Apakah tingkat pendidikan yang tinggi ternyata tidak cukup membuat orang memiliki positive mental attitude di jalan raya? Ataukah justru tingkat pendidikan yang lebih tinggi ini membuat orang menjadi sombong dan merasa lebih unggul dari yang lain?

Apabila menanggapi pengemudi-pengemudi seperti ini dengan melibatkan emosi, mungkin kita juga akan kesal dan bisa jadi kita juga cenderung mengikuti perilaku seperti itu.

Untuk itu, mungkin tips-tips berikut bisa membantu kita untuk bisa lebih bersikap positif dalam menghadapi kemacetan di jalan raya.

Berfikirlah bahwa mentaati aturan lalu lintas adalah cara mengemudi paling benar dan aman.
Cobalah mengaca pada negara-negara tetangga kita seperti Singapura dan Malaysia. Lalu lintas di sana sangat tertib dan teratur. Kenapa hal itu terjadi? karena pengguna para pengguna jalannya mau menaati tata tertib lalu lintas yang ada. Orang yang salah akan terlihat sebagai orang aneh di sana.

Budaya sebaliknya tampaknya terjadi di Jakarta. Orang yang tertib tampak sebagai orang yang bodoh dan tak mau memanfaatkan peluang. Kondisi seperti inilah yang tampaknya juga memaksa orang-orang terpelajar tidak mau terlihat bodoh. Akhirnya mereka yang terpelajarpun lupa akan statusnya sebagai agen perubahan yang mempunyai tanggung jawab moral memberikan edukasi kepada masyarakat.

Tapi sekali lagi ingatlah bila bukan kita yang menegakkan aturan lalu lintas siap lagi yang akan memulai?


Berempatilah Kepada Orang Lain
Ingat jalan ini bukan hanya milik kita. Melainkan milik seluruh pembayar pajak di negeri ini yang mempunyai hak yang sama untuk menggunakannya. Kita semua ada pada situasi yang sama yaitu kemacetan. dan kita semua mempunyai hak yang sama yaitu untuk sampai ke tujuan dengan cepat dan selamat.

Kecuali ambulance atau pejabat negara yang sedang bertugas, tidak ada hak previledge yang diberikan kepada pemakai jalan untuk melanggar hak orang lain.


Sabarlah dan Ingat Budaya Antri
Pepatah mengatakan, semut saja yang otaknya lebih kecil mau antri. Kenapa kita yang dibekali akal dan hati nurani tidak bisa melakukan hal itu?

Tahan Emosi, Forgive and Feel Free
Jangan terpancing bila melihat keadaan sekitar yang memang dapat memicu emosi anda. Maafkanlah orang-orang yang suka serobot dan menjengkelkan. Karena sekali kita terpancing dan emosi, maka kita adalah bagian dari mereka.Ingatlah bahwa anda tetap benar bila mengikuti aturan lalu lintas yang ada.

Tetap tenang dan fikirkanlah hal-hal yang positif. Misalnya anak dan istri anda yang menanti di rumah.

Dengarkanlah Radio, Musik atau Bunyi-bunyian Lain yang Menghibur
Ini perlu untuk mengalihkan emosi anda agar tidak terpancing dengan situasi sekitar. Dengarkanlah siaran radio yang lucu agar anda selalu terhibur atau musik yang menenangkan diri anda. Kalau anda suka mendengarkan alunan Al Qur'an cobalah dengarkan agar anda lebih tentram.

Sabtu, 06 Februari 2010

Anger Management

Hanya seorang yang pemarah yang bisa betul-betul bersabar.
Seseorang yang tidak bisa merasa marah -tidak bisa disebut penyabar; karena dia hanya tidak bisa
marah.

Sedang seorang lagi yang sebetulnya merasa marah, tetapi mengelola kemarahannya untuk tetap berlaku baik dan adil adalah seorang yang berhasil menjadikan dirinya bersabar. Dan bila Anda mengatakan bahwa untuk bersabar itu-sulit, Anda sangat tepat; karena kesabaran kita diukur dari kekuatan kita untuk tetap mendahulukan yang benar dalam perasaan yang membuat kita seolah-olah berhak untuk berlaku melampaui batas.

Kesabaran bukanlah sebuah sifat, tetapi sebuah akibat.
Perhatikanlah bahwa kita lebih sering menderita karena kemarahan kita, daripada karena hal-hal yang membuat kita merasa marah. Perhatikanlah juga bahwa kemarahan kita sering melambung lebih tinggi daripada nilai dari sesuatu yang menyebabkan kemarahan kita itu, sehingga kita sering bereaksi berlebihan dalam kemarahan.

Hanya karena Anda menyadari dengan baik –tentang kerugian yang bisa disebabkan oleh reaksi Anda dalam kemarahan, Anda bisa menjadi berhati-hati dalam bereaksi terhadap apa pun yang membuat Anda merasa marah. Kehati-hatian dalam bereaksi terhadap yang membuat Anda marah itu lah yang menjadikan Anda tampil sabar.

Kemarahan adalah sebuah bentuk nafsu.
Nafsu adalah kekuatan yang tidak pernah netral, karena ia hanya mempunyai dua arah gerak; yaitu bila ia tidak memuliakan, pasti ia menghinakan.

Nafsu juga bersifat dinamis, karena ia menolak untuk berlaku tenang bila Anda merasa tenang. Ia akan selalu memperbaruhi kekuatannya untuk membuat Anda memperbaruhi kemapanan Anda.

Maka perhatikanlah ini dengan cermat; bila Anda berpikir dengan jernih dalam memilih tindakan dan cara bertindak dalam kemarahan, nafsu itu akan menjadi kekuatan Anda untuk meninggalkan kemapanan Anda yang sekarang -untuk menuju sebuah kemapanan baru yang lebih tinggi.

Tetapi, bila Anda berlaku sebaliknya, maka ke bawahlah arah pembaruan dari kemapanan Anda. Itu sebabnya, kita sering menyaksikan seorang berkedudukan tinggi yang terlontarkan dari tingkat kemapanannya, dan kemudian direndahkan karena dia tidak berpikir jernih dalam kemarahan. Dan bila nafsunya telah menjadikannya seorang yang tidak bisa direndahkan lagi, dia disebut sebagai budak nafsu.

Kualitas reaksi Anda terhadap yang membuat Anda marah, adalah penentu kelas Anda.

Kebijakan para pendahulu kita telah menggariskan bahwa untuk menjadi marah itu mudah, dan patut bagi semua orang. Tetapi, untuk bisa marah kepada orang yang tepat, karena sebab yang tepat, untuk tujuan yang tepat, pada tingkat kemarahan yang tepat, dan dengan cara yang tepat -itu tidak untuk orang-orang kecil.

Maka seberapa besar-kah Anda menginginkan diri Anda jadinya?

Memang pernah ada orang yang mengatakan bahwa siapa pun yang membuat Anda marah-telah mengalahkan Anda. Pengamatan itu tepat-hanya bila Anda mengijinkan diri Anda berlaku dengan cara-cara yang merendahkan diri Anda sendiri karena kemarahan yang disebabkan oleh orang itu. Itu sebabnya, salah satu cara untuk membesarkan diri adalah menghindari sikap dan perilaku yang mengecilkan diri.

Kita sering merasa marah karena orang lain berlaku persis seperti kita.
Perhatikanlah, bahwa orang tua yang sering marah kepada anak-anaknya yang bertengkar -adalah orang tua yang juga sering bertengkar dengan pasangannya.

Bila kita cukup adil kepada diri kita sendiri, dan mampu untuk sekejap menikmati kedamaian kita akan melihat dengan jelas bahwa kita sering menuntut orang lain untuk berlaku seperti yang tidak kita lakukan.
Dan dengannya, bukankah kemarahan Anda juga penunjuk jalan bagi Anda untuk menemukan perilaku-perilaku baik yang sudah Anda tuntut dari orang lain, tetapi yang masih belum Anda lakukan?

Lalu, mengapakah Anda berlama-lama dalam kemarahan yang sebetulnya adalah tanda yang nyata bahwa Anda belum memperbaiki diri?

Katakanlah, tidak ada orang yang cukup penting yang bisa membuat saya marah dan berlaku rendah.
Bila Anda seorang pemimpin, dan Anda telah menerima tugas untuk meninggikan orang lain; maka tidak ada badai, gempa, atau air bah yang bisa membuat Anda mengurangi nilai Anda bagi kepantasan untuk mengemban tugas itu.

Ingatlah, bahwa orang-orang yang berupaya mengecilkan Anda itu-adalah sebetulnya orang-orang kecil.
Karena, orang-orang besar akan sangat berhati-hati dengan perasaan hormat Anda kepada diri Anda sendiri. Bila mereka marah pun kepada Anda, mereka akan berlaku dengan cara-cara yang mengundang Anda untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Sedangkan orang kecil? Orang-orang kecil membuat orang lain merasa kecil agar mereka bisa merasa besar.
Anda mengetahui kebesaran yang dijanjikan untuk Anda. Maka besarkan-lah orang lain.

(Sumber: Mario Teguh, MSTS 13.07.2006)